Setelah melakukan aktivitas atau dalam keadaan tertentu, tubuh kita bisa menjadi kotor dan tak syah untuk melakukan ibadah. Kondisi tersebut disebut sebagai junub yang terjadi setelah melakukan hubungan suami istri atau keluar air mani.

Dikarenakan efeknya yang membuat kita tak bisa beribadah, maka menghilangkan hadas besar atau junub ini wajib hukumnya.

Cara tersebut dikenal dengan sebutan ‘mandi besar’ di kalangan masyarakat kita.

Pada saat melakukannya, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita secara detail bagaimana aturan dan langkah-langkahnya.

Jadi bukan asal basah dan mandi saja! Semuanya ada aturannya biar mandi wajib kita menjadi syah dan dapat kembali melakukan ibadah seperti biasanya.

Tapi sebelum kita mulai melakukan mandi wajib, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu junub dan mandi wajib biar tak salah kaprah dan tepat saat melakukannya.

Apa Itu Mandi Wajib?

Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa mandi wajib dilakukan demi menghilangkan junub atau hadas besar.

Secara hukumnya, kita diwajibkan untuk membasuh seluruh badan, termasuk kepala dan leher sebagaimana mandi pada umumnya.

Hukum Islam juga menyebutkan bahwa ada 2 cara yang dapat kita lakukan, yaitu:

  • Tartibi, yaitu mencuci seluruh bagian tubuh secara berurutan.
  • Irtimasi, yaitu pembilasan seluruh bagian tubuh secara bersamaan.

Mandi wajib atau Ghusl Tartibi ini lebih banyak digunakan oleh masyarakat kita mengingat budaya mandinya yang menggunakan gayung atau shower.

Ada urutannya tersendiri, seperti misalnya dimulai dari kepala, leher, dan seluruh tubuh. Ada pula yang menyarankan kita untuk melakukannya dimulai dari tubuh bagian kanan.

Berbeda dengan Ghusl Irtimasi yang dilakukan dengan merendamkan tubuh seluruhnya secara bertahap. Dikarenakan posisinya yang berendam, maka secara otomatis bagian tubuh pertama yang dibasahi adalah kaki hingga kepala.

Kita juga membutuhkan banyak air untuk dapat merendam seluruh tubuh jika ingin menggunakan mandi wajib irtimasi. Untuk alasan ini jugalah, irtimasi jarang digunakan di Indonesia.

Tata Cara Melakukan Mandi Wajib

Islam sangatlah ketat dalam melakukan bebersih diri yang satu ini, dan menjadi bukti bahwa agama kita begitu mencintai kebersihan.

Bahkan sebelum kita melakukan mandi wajib dari junub ini, ada beberapa syarat yang harus kamu lakukan, seperti menggunakan air bersih, memiliki air tersebut (bukan hasil mencuri), dan membersihkan sperma hingga bersih terlebih dahulu.

Karena menurut Islam, seorang pria yang telah mengalami ejakulasi akibat dari hubungan suami istri atau dalam tidur, maka tubuh pria tersebut menjadi najis. Alhasil, harus melalui proses Ghusl Janabat sebelum melakukan shalat dan tindakan lain yang membutuhkan pemurnian (Tahara).

Agar sperma keluar secara total setelah ejakulasi, maka seorang pria disarankan buang air kecil demi menyingkirkan semua kotoran untuk kemudian melakukan mandi wajib.

Setelah syarat terpenuhi, maka kamu bisa melakukan tata cara mandi wajib seperti berikut ini.

  1. Keluarkan seluruh kotoran dalam tubuh (seperti yang sudah disebutkan di atas).
  2. Membaca niyyat: nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari minal janabati fardlon lillahi ta’ala.
  3. Cuci tangan sampai siku 3 kali.
  4. Lakukan kumur sebanyak 3 kali.
  5. Bersihkan bagian-bagian berlubang di tubuh, termasuk kemaluan, dubur, hidung, dan telinga. Bersihkan pula area tubuh yang tersembunyi, termasuk ketiak, selangkangan, bagian belakang lutut, dan pusar.
  6. Cuci tangan menggunakan sabun setelah membersihkan area-area khusus tersebut.
  7. Berwudlu seperti hendak shalat.
  8. Basuh kepala sampai ke leher. Usapkan tangan pada wajah dan leher, serta sisir rambut menggunakan jari jemari biar air merembes masuk ke kulit kepala.
  9. Basuh bagian tubuh sebelah kanan dari bahu turun ke kaki. Basuh juga tubuh bagian kiri dengan urutan sama. Saat mencuci, disarankan untuk membersihkan tubuh menggunakan tangan (jangan memakai kain atau sponge).

Setelah berhasil membersihkan diri dari junub, maka kamu sudah bisa syah kembali untuk melakukan ibadah.

Sebaliknya, ada beberapa hal yang dilarang ketika tubuh kita tengah berada dalam kondisi junub.

Hal yang Dilarang Pada Saat Mandi Wajib Junub

Alasan kenapa mandi junub menjadi begitu wajib adalah karena kita tak akan bisa melakukan ibadah wajib. Jika dipaksakan, maka akan menjadi dosa. Jika ditinggalkan, maka akan tetap menjadi dosa pula.

Berbeda dengan kaum hawa yang pada saat mengalami menstruasi, maka akan diberi keringanan untuk tidak melakukan shalat wajib sekalipun.

Sementara pria haruslah segera dibersihkan karena kondisi junub tersebut tidaklah berkepanjangan seperti halnya haid.

Jika kamu tidak atau belum melakukan mandi junub, maka beberapa aktivitas atau perbuatan ini dilarang menurut agama:

  • Melakukan ibadah wajib seperti sholat, puasa, dan thawaf.
  • Menyentuh Al-Quran.
  • Menyentuh tulisan Allah, nabi, dan imam.
  • Memasuki Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah sekalipun itu di depan gerbang masjidnya.
  • Memasuki masjid-masjid lainnya termasuk mushola.
  • Membaca Al-Quran.

Selain itu, kita pun dilarang untuk membaca bahkan satu huruf dari surah-surah Al-Quran berikut ini:

  • As-Sajda
  • Fussilat
  • An-Najm
  • Al-Alaq

Keempat ayat ini disunahkan bagi kita untuk melakukan sujud tilawah, maka dari itulah kita dilarang membaca satu huruf pun dari ayat tersebut saat berada dalam kondisi junub.

Mandi Wajib Selain Junub

Mandi wajib dalam bahasa Arab disebut sebagai Ghusl, dan menjalankan Ghusl bukan berarti harus pada kondisi junub saja.

Faktanya, ada beberapa kondisi lain yang mengharuskan kita untuk melakukan mandi wajib akibat kondisi tertentu.

Sayangnya, kebanyakan orang mengira bahwa mandi wajib hanya satu, yaitu menghilangkan junub saja.

Padahal dari segi bahasa, mandi wajib itu bisa meliputi sebagai berikut:

  • Ghusl Janabat, atau dikenal pula dengan mandi wajib junub setelah hubungan seksual atau ejakulasi seperti yang sudah dijelaskan panjang lebar di atas.
  • Ghusl Mass Mayyit, mandi wajib setelah menyentuh mayat.
  • Ghusl Mayyit, ritual memandikan tubuh almarhum.
  • Ghusl Hayd, mandi wajib setelah seorang wanita selesai menstruasi.
  • Ghusl Istihdad, mandi ketika seorang wanita mengalami menstruasi melebihi waktu normalnya, yang mengakibatkannya mengeluarkan darah terus-menerus.
  • Ghusl Nifas, mandi wajib setelah pendarahan postpartum atau melahirkan.
  • Ghusl Nasr, mandi wajib yang dilakukan sebagai akibat dari nazar.

Meskipun memiliki banyak jenis, sebagian besar mandi wajib dilakukan dengan tata cara yang sama, hanya saja niatnya yang berbeda.

Mandi besar juga tak bisa diganti dengan sekedar wudlu saja, bahkan wudlu sendiri masuk ke dalam tata cara dan langkah daripada Ghusl itu sendiri.

Mandi wajib ini memiliki satu tingkatan lebih tinggi daripada wudlu karena fungsinya yang bisa menghilangkan najis dan hadas yang lebih besar, yang mana tak bisa dihilangkan hanya dengan sekedar berwudlu saja.

Hadrat Imam Ghazali menyatakan bahwa jika seseorang yang tengah junub melakukan shalat, maka kelak ia akan dibuatkan baju yang terbuat dari api.