POTENSI INDONESIA SEBAGAI PEMAIN BISNIS OTOMOTIF GLOBAL DI TAHUN 2030

Kemampuan Indonesia untuk bisa menjadi salah satu pemain otomotif dunia agaknya mulai  terlihat. Hal  itu di dasarkan kondisi saat ini, selain  Indonesia masuk peringkat ke-2 negara  di Asean penjual mobil roda empat (R4).  Kualitas Indonesia pun mulai di perhitungkan dalam memproduksi komponen kendaraan berkualitas.

 

Bicara soal kemampuan Indonesia menjadi salah satu pemain otomotif global, memang hal itu bukan sekadar isapan jempol semata. Karena dengan beberapa prestasi  yang saat ini di capai  Indonesia, tidak mustahil akan terwujud.  Terlebih saat  ini, Indonesia adalah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar. Inilah salah satu potensi bisnis yang menarik untuk di jalankan.

Ambil contoh  dua keunggulan yang bisa  memperlihatkan potensi  Indonesia, khususnya terkait kemampuannya dalam industri otomotif. (1) Meskipun Indonesia negara berkembang, nyatanya analisa Frost & Sullivan menyatakan bahwa, ada sekitar 80 kendaraan dari per 1.000 orang di Indonesia. (2) Wuling Motor ( wuling) dalam kurun waktu 1 tahun berhasil menjual 13.170 unit.

Kemampuan Wuling Motors ( wuling) itu sendiri memang cukup menarik perhatian pelaku bisnis otomotif di Indonesia. Bukan karena apa,  keberadaannya di Indonesia masih kurang dari 1 tahun ( Agustus 2017) – Juni (2018). Namun produsen ini mampu memberikan kinerja terbaiknya, sehingga kinerja penjualannya cenderung meningkat dengan jumlah dealer saat ini ada 71.

Memang majunya industri otomotif di Indonesia tidak terlepas dari peran industri turunan yang ada di sektor otomotif. Betul, industri komponen kendaraan, pada akhirnya menjadi salah satu trigger penting dalam menunjang perkembangan industri otomotif. Sehingga tidak berlebihan jika di kawasan Asean saat ini Indonesia mampu memimpin pasar dalam penjualan R4

Baca juga >>
7 bisnis cepat kaya terbaru dengan modal sedang 2018

Sekalipun baru dalam taraf kawasan Asean, namun dengan memperlihatkan tren yang  terjadi dalam wilayah Indonesia. Dimana dalam 2 tahun terakhir saja, angka penjualan kendaraan  meningkat cukup tinggi dari 1.079 juta unit (2017) menjadi 1.151 juta unit ( 2018).  Hal ini semakin membuktikan bahwa ke depan, Indonesia mampu berbicara di kawasan Asia bahkan dunia.

Tingginya angka penjualan kendaraan bermotor, memang selaras dengan angka produksi kendaraan  yang ada di  Indonesia. Jika kondisinya di tahun 2017 sudah mencapai 1.177 juta unit, maka di tahun 2018 lalu meningkat 3,31% menjadi 1.216 juta unit.  Kondisi inilah yang akhirnya  membawa  Indonesia berada di posisi ke-2 negara penghasil kendaraan di Asean.

Keberhasilan Indonesia sebagai salah satu potensi baru dalam industri otomotif skala Asean. Pada akhirnya memang bukan karena peran pelaku industrinya semata, namun peran pemerintah terkait juga besar. Kondisi itu terlihat dari pernyataan yang di berikan Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian bahwa sektor otomotif jadi salah satu sektor unggulan di Era Industri 4.0

Pernyataan Menteri Perindustrian tersebut jelas membawa dampak positif  bagi para pebisnis secara nasional. Karena dalam sebuah acara Gaikindo  Indonesia International Auto Show (GIIAS)2019, Airlangga menyatakan bahwa akan masuk dua industri otomotif dunia dengan nilai investasi Rp50 triliun.

Kondisi diatas pada akhirnya memang menjadi angin segar bagi pelaku industri otomotif di  Indonesia, bahwa ke depan akan semakin baik. Tidak saja membaik karena kondisi makro ekonomi dan  dukungan pemerintah terkait.  Tetapi juga karena saat ini Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.

Terkait dukungan positif pemerintah, beberapa program berikut bisa jadi dasar kenapa Indonesia bisa menjadi pemain otomotif dunia. (1)Pengembangan industri komponen otomotif di Kawasan Industri Pulogadung untuk pelaku KUKM (2)Pemerintah secara konsisten terus membangun jaringan infrastruktur  jalan (3) Agenda rutin pameran otomotif GIIAS yang terus di gelar per tahun.

Baca juga >>
Panduan Lengkap Bisnis Sampingan Untuk Karyawan

GIIAS sendiri memang bukan sekadar pameran otomotif semata. Tetapi pameran ini sekaligus menjadi satu arena pembuktian bagi pelaku bisnis otomotif di kawasan Asean dan dunia. Karena ini adalah pameran otomotif kelas dunia, dengan menghadirkan beragam perkembangan industri otomotif di Indonesia.

Seperti  yang terjadi pada tahun 2018 lalu, walau hanya berlangsung selama 9 hari nyatakan pameran ini bisa di nyatakan sukses luar biasa.  Dari data  yang berhasil di kumpulkan oleh panitia, data transaksi penjualan unit sebanyak 10.148 unit ( 9.134 unit mobil & 1.014 unit motor).  Dimana dari jumlah pengunjungnya sendiri juga meningkat menjadi 425.211 orang pengunjung.

Ini semakin membuktikan bahwa sekalipun Indonesia masih negara berkembang, nyatanya minat konsumen Indonesia cukup tinggi. Terbukti dengan peningkatan tidak saja dalam penjualan tapi juga pengunjung pameran. Dan yang menarik dari Gaikindo, ekspor mobil utuh ( completely built up : CBU) Indonesia 2018 naik 10,4% dibanding 2017  yaitu mencapai 187.752 unit kendaraan.

 

ERA INDUSTRI 4.0, INDUSTRI OTOMOTIF PERLU DUKUNGAN CRM UNTUK  MENGANALISA KEINGINAN CUSTOMER.

Era Industri 4.0 sekalipun banyak mendukung perkembangan sebuah bisnis. Namun tidak jarang keberadaan era industri ini membawa konsekuensi negatif bagi pelaku industri jika mereka  belum siap. Hal itu juga terjadi dalam industri otomotif nasional, seperti yang di sampaikan oleh Menteri Peridustrian bahwa ada 3 masalah dalam industri otomotif.

Menurut Airlangga Hartarto, setidaknya ada 3 masalah penting   yang mesti di selesaikan terkait  industri otomotif di Indonesia (1) Perlunya dukungan  terhadap konsistensi ketersediaan  bahan baku industri (2) Perlunya peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM  bidang  otomotif (3) Perlunya kemudahan  terhadap akses keuangan yang memadai terutama untuk kalangan KUKM.

Kenapa  di tujukan kepada pelaku bisnis kelas KUKM, karena ini menyangkut progress ke depan industri komponen kendaraan Indonesia. Jika masalah ini bisa di atasi dengan baik, maka kemungkinan Indonesia menjadi pemain dunia makin di percepat prosesnya. Karena masalah komponen   Indonesia tidak terlalu terpengaruh komponen dari luar negeri.

Baca juga >>
8 Bisnis Makanan Terbaru Modal Kecil Untung Besar

Kondisi diatas juga di amini oleh Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian.  Menurutnya, ke-3 masalah diatas bukan hanya masalah pelaku industri KUKM semata, tetapi menjadi masalah bersama pelaku industri otomotif nasional. Sehingga dengan adanya kepedulian bersama hasilnya akan lebih baik.

Sejatinya apa  yang menjadi kekuatiran diatas,  saat ini sedikit  banyak sudah bisa di atasi dengan adanya aplikasi sistem CRM. Sebuah sistem yang menurut Handri Kosada, CEO Barantum adalah sebagai alternatif solusi terbaik yang akan memudahkan pelaku industri KUKM mampu mempercepat progress bisnisnya.

“ Implikasi dari CRM itu sendiri lanjut Handri, bahwa nantinya masalah keterbatasan SDM dalam  industri otomotif  yang mungkin kurang  mumpuni. Bisa diimbangi dengan penggunaan aplikasi CRM, sehingga perusahaan mampu mengoptimalkan potensi yang ada di sisi customer. Hingga pada akhirnya kedekatan antara customer dan produsen bisa terjalin dengan baik.

Karena ketika perusahaan masuk dalam Era Industri 4.0, sudah pasti keterikatan SDM dan teknologi informasi tidak bisa di hindari. Sedangkan sistem CRM ( www.barantum.com) itu sendiri dengan beberapa keunggulan yang dimilikinya mampu menjadi media perantara. Media yang akan memudahkan SDM memaksimalkan kinerjanya dengan bantuan aplikasi teknologi.

Beberapa keunggulan CRM : (1) Mampu meng-identifikasi berbagai masalah  yang berhubungan dengan perusahaan (2) Bisa menjadi satu acuan untuk perusahaan yang menerapkan sistem customer-oriented ( customer centric ) (3) Sistem ini bisa menjadi dasar dalam pengukuran sudut pandang dari berbagai karakter pelanggan  (4) Hingga pada akhirnya sistem ini bisa melayani dan menangani berbagai keluhan pelanggan customer.

KUNCI SUKSES INDONESIA DI ASEAN 2 HAL : KONSISTEN & SELALU UPGRADE POTENSI DIRI,

Permasalahan telah di carikan solusinya, kini tinggal bagaimana pelaku industri otomotif mampu mempertahankan ekosistemnya.  Jika  berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) angka penjualan 2018 : 851.430 unit.  Yang artinya dalam 1 tahun pelaku industri otomotif mampu menaikan penjualan sekitar 10,85% dari 2017 :786.120 unit

Baca juga >>
Unpaid Leave Karyawan dan Hukum yang Mendasarinya

Kondisi ini memang memiliki 2 dasar, pertama karena industri perakitan kendaraan Indonesia sudah semakin moderen. Kedua SDM bidang otomotif Indonesia sudah semakin mumpuni. Kondisi ini seperti yang disampaikan oleh  Budi Darmadi, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bahwa untuk menjaga konsistensi ini adalah dengan peningkatan jumlah SDM berkualitas.

Realitas yang ada di lapangan lanjut Budi, bahwa saat ini jumlah pekerja otomotif aktif yang telah bekerja di 8.000 industri otomotif sebanyak 25 ribu pekerja. Jumlah ini seiring waktu akan meningkat mengingat potensi industri otomotif Indonesia  yang semakin berkembang. Dimana salah satu sumber  SDM Otomotif yang mungkin bisa di dapat cepat melalui jalur SMK.

Ke depan, ada baiknya para SMK bidang otomotif yang akan langsung masuk ke pasar industri otomotif.  Mungkin ada baiknya dengan ditambah beberapa program : pengetahuan tambahan bidang  otomotif, kesempatan untuk magang di perusahaan-perusahaan industri otomotif. Dengan  kondisi seperti ini, maka kebutuhan SDM  bidang otomotif sudah teratasi dengan baik.

 

 

Order via Whatsapp !