Mengoptimalkan Transaksi Dengan Memahami Proses “Negosiasi”

Dengan menggunakan metode pendekatan W3 (What, Who, Why) pada beberapa pedagang online, para pengamat pasar online mendapati beberapa data yang cukup mencengangkan. Beberapa penjual online yang menghasilkan lebih dari $ 100 juta per tahun ternyata, memiliki strategi penetapan harga yang terpusat pada satu orang pembuat keputusan penetapan harga. Kurang dari 20% produk yang menghasilkan lebih dari 80% keuntungan mereka, dan dalam 20% produk tersebut, mereka juga biasanya memiliki pemahaman yang baik tentang bagaimana produk-produk tersebut dijual dari perspektif volume dan mampu memproyeksikan penjualan, pendapatan, dan margin dengan akurasi yang tinggi.

Memahami nilai transaksi antara Anda dan pelanggan adalah kunci utama dalam menentukan harga produk Anda dan memaksimalkan nilai“ timbal balik ” antara yang diberikan dan dibayarkan untuk produk Anda, dan pada akhirnya mengoptimalkan pendapatan secara keseluruhan. Saat pertama kali memulai, mengetahui dari mana memulainya akan terasa sangat melelahkan. Banyak pebisnis pemula merasa stres untuk memulai dengan harga rendah serta membutuhkan waktu lama sebelum Anda mengoptimalkan harga produk.

Semakin Anda memahami tentang nilai transaksi antara Anda dan pelanggan, maka akan semakin mudah negosiasi harga terjadi. Hal ini terjadi karena jika Anda tahu nilai yang Anda berikan kepada pelanggan Anda berbeda dengan pesaing, dan pelanggan Anda percaya bahwa nilai yang mereka dapatkan adalah “kesepakatan terbaik yang bisa mereka dapatkan,” maka, dengan asumsi mereka benar-benar membutuhkan produk Anda, kemungkinannya adalah mereka akan membayar produk Anda tidak peduli berapa harganya.

Bekerja Bersama untuk Mencapai Kesepakatan

Pada awalnya, Anda akan menghabiskan banyak energi untuk mencapai kesepakatan dengan pelanggan. Jika kesepakatan tidak bisa dicapai, bisa mengabaikannya. Tapi jika kedua belah pihak ingin menyelesaikan kesepakatan, maka ini hanya masalah bekerja sama untuk mencapai kesepakatan yang membuat semua orang senang. Ini adalah salah satu faktor paling penting dalam menciptakan transaksi. Jika Anda dan pelanggan bernegosiasi sebagai lawan, akan jauh lebih sulit untuk mengatasi masalah ketidaksetujuan atau ketidakselarasan. Tapi jika Anda bertindak sebagai mitra, maka Anda lebih cenderung bekerja bersama untuk menemukan solusi kreatif untuk setiap poin kesepakatan.

Baca juga >>
4 Tips Usaha Jualan Bakso Agar Untung Besar

Lihat Prospek Anda sebagai Mitra

Ada dua hal yang perlu Anda lakukan ketika bernegosiasi dengan calon pelanggan. Mulailah dengan visual sederhana ini, bayangkan diri Anda dan calon pelanggan Anda duduk di sisi yang sama dalam rapat. Visual sederhana ini membantu mengarahkan Anda untuk bekerja bersama sebagai sebuah tim daripada melawan satu sama lain. Dalam hal ini, Anda jelas hanya setengah dari persamaan, tetapi apa yang tercipta dalam pikiran dan tindakan Anda adalah kemampuan untuk mendekati calon pelanggan sebagai mitra Anda. Jika Anda mencobanya, yang akan Anda perhatikan adalah bahasa dan postur tubuh Anda berubah saat mulai menghadapi calon pelanggan. Jika Anda benar-benar memvisualisasikan diri berada di sisi yang sama dan bekerja bersama, akan jauh lebih mudah untuk mendengarkan dan menimpali. Jika Anda bisa mempertahankan visualisasi ini, maka prospek Anda pada akhirnya akan cocok dengan perasaan itu, karena mereka akan merasa didukung dan dipercaya.
Hal kedua yang perlu Anda ingat adalah untuk tidak menggunakan emosi saat bertemu dengan calon pelanggan Anda. Ini bukan berarti Anda tidak bisa berekspresi dan merasa antusias, tapi memahami bahwa ini bukan urusan pribadi, ini urusan bisnis, dan pada akhirnya semua orang berusaha melakukan pekerjaan sebaik mungkin.

Proses Membuat Kesepakatan

Pada akhirnya, topik pembahasan mengerucut menjadi bagaimana menjalin komunikasi dengan calon pelanggan dan menciptakan transaksi? Perhatikan 3 proses ini untuk benar-benar membantu Anda menghadapi calon pelanggan dan menjual produk Anda.

1.Mulai dengan Percakapan

Pertama dan terpenting, hindari melakukan negosiasi melalui Email, karena Email hanya digunakan untuk mengatur jadwal pertemuan, mengklarifikasi data, dan mengirim dokumen. Email tidak boleh digunakan untuk melakukan transaksi. Pada bagian ini fokuslah pada negosiasi yang dimulai dengan proposal. Selalu telepon atau atur video call dan tanyakan kepada calon pelanggan Anda. Jelaskan poin yang menurut Anda penting atau yang sulit dipahami. Biarkan mereka bertanya dan berbicara, kemudian lanjutkan dengan mengirim proposal. Sering kali bertemu langsung bukanlah suatu pilihan, sehingga panggilan video bisa jadi alternatif karena Anda tetap bisa berinteraksi satu sama lain sehingga dapat mengukur niat dan emosi, dan pada akhirnya pertemuan langsung bisa menjadi percakapan antara dua orang yang nyata.

Baca juga >>
5 Contoh Usaha Makanan Unik dan Kreatif

2.Jujur dan Transparan

Bernegosiasi dengan calon pelanggan demi mencapai kesepakatan untuk pertama kalinya terkadang cukup membingungkan, bahkan terkadang sedikit frustrasi. Hal ini terjadi karena kebanyakan orang berpikir bahwa bernegosiasi sebagai ajang membahas poin kesepakatan secara rinci, poin demi poin, dan menentukan harga hingga terjadi transaksi. Biasanya masing-masing pihak akan menahan beberapa informasi sehingga meminimalisir ruang gerak. Anda dan calon pelanggan menjadi tidak jujur satu sama lain dan takut untuk bertukar informasi. Padahal banyak yang telah sukses dalam melakukan penjualan saat semua orang merasa masing-masing pihak mendapatkan penawaran terbaik yang bisa mereka dapatkan. Strategi selalu jujur dan terbuka akan membuat mereka merasa bukan jadi lawan, tapi jadi tim. Mungkin tidak semua orang akan setuju dengan mengungkapkan kejujuran dan transparansi pada calon pelanggan, tapi jika Anda akan mencobanya, hal yang paling penting untuk diingat adalah bahwa semua yang Anda katakan harus 100% sepenuhnya transparan. Jika Anda bisa membangun kejujuran itu, Anda akan menemukan bahwa setiap transaksi akan terjadi di akhir negosiasi.

3.Mengetahui Kapan Kesepakatan Sudah Siap untuk Ditutup

Poin terakhir yang perlu dipahami adalah, Bagaimana Anda tahu kapan penjualan dilakukan. Pertama, Anda tidak akan menutup negosiasi dan melakukan penjualan sampai perjanjian tertulis ditandatangani. Ini berarti bahwa semua poin bisnis dan hukum telah disepakati termasuk harga, jangka waktu perjanjian, dan ketentuan pembayaran. Selain itu, kejelasan tentang berapa lama pelanggan Anda akan membayar Anda, berapa jumlahnya, dan kapan, juga harus tertera dalam dokumen kontrak perjanjian yang telah Anda tandatangani. Ini membuat perjanjian itu mengikat secara hukum dan resmi. Sebelum ini terjadi, kesepakatan apa pun bisa gagal meskipun kedua belah pihak telah berniat melakukannya. Anda tidak boleh merayakan apapun sampai kedua kontrak ditandatangani atau bahkan saat pembayaran dilakukan.

Baca juga >>
10 usaha rumahan yang menjanjikan dan mudah 2018

Terimakasih semoga Artikel ini Bermanfaat

Order via Whatsapp !