Kenapa Memilih Untuk Sendiri?
Gue punya temen, namanya Supri. Di usianya yang sudah menginjak kepala tiga itu, dia masih hidup sendiri. Tapi gue nggak ngeliat dia kesepian, gue nggak ngeliat dia galau, yang gue liat dia selalu ceria. Setiap pulang dari kantor, dia suka menari-nari di depan pintu kamar sebelum dia menusukkan kunci ke gagang pintu. Kadang dia nari balet, kadang dia breakdance, dan terakhir gue liat dia melakukan tarian pemanggil hujan, dia kesamber petir.

Gue sempet kepikiran kok bisa dia tetap selalu ceria di saat usianya sudah cukup matang untuk berkeluarga, namun dia tidak memiliki kehidupan asmara?

Sebagai teman yang baik, gue mencoba untuk menjadi manusia. Ya, manusia yang bisa berkomunikasi dari hati ke hati. Gue nggak mau nanyain ke orang lain tentang Supri yang mungkin akan berujung gossip. Gue milih untuk langsung nanyain ke orangnya.

“Pri.. Kok lo bisa tetep ceria terus sih meskipun elo jomblo?” Gue nanya ke doi sambil nyemir ban motor gue.

“Ha? Tumben lo tanya beginian?” Supri yang sedang sibuk nyedotin uap bensin dari tangki motor gue pun mendadak mengalihkan perhatiannya ke arah gue.

“Hehe.. Abisnya gue penasaran sih.. Kok elo jomblo tapi enggak melo?” Gue masih ngelanjutin nyemir ban motor pake semir sepatu.

Dengan mata yang agak merah karena mabok bensin, Supri menjawab sembari bertanya, “Emang melankolis, sendu, sedih, itu sifat yang harus dimiliki oleh jomblo ya?”

“Yang gue denger sih biasanya gitu.” Gue menjawab dengan nada datar karena gue sendiri kurang yakin dengan jawaban gue.

“Haha! Apa yang lo denger, apa yang lo liat, nggak mutlak harus lo ikutin kan?”

“Maksudnya?!” Gue makin bingung dengan pertanyaan Supri.

Supri pun duduk jongkok di samping gue, lalu menepuk pundak gue dan bertanya, “Pernah gak lo ngeliat ilalang tumbuh sendirian? Indah?”

Gue menggelengkan kepala.

“Pernah gak lo make sebatang lidi buat nyapu? Bersih?”

Gue kembali menggelengkan kepala, “Tidak.”

“Pernah gak lo nyoba buat boker rame-rame? Nyaman? Tidak.” Supri mengakhiri rentetan pertanyaannya dengan cara dia jawab sendiri.

“Gue masih belum paham.” Gue ngucapin kalimat itu sambil minum paracetamol karena mulai sakit kepala dengan kalimat-kalimat Supri.

Supri kembali berdiri, membuka tangki bensin motor gue, lalu menghirup uapnya dalam-dalam. Dia pun kembali menjelaskan, “Gini.. Hidup itu punya banyak fase untuk kita jalani. Ada fase yang memang bisa dinikmati sendirian, karena tidak bisa dilalui dengan orang yang tidak tepat. Ada pula fase hidup yang memang cuma bisa dinikmati bukan sendirian. Analoginya kayak ilalang, meskipun dia tidak indah kalo dia berdiri sendiri, dia akan lebih tidak indah kalo dia berdiri ramai-ramai dengan lidi. Kenapa? Karena tidak cocok. Ketidakcocokan akan menciptakan ketidakharmonisan. Tidak perlu dipaksakan.”

Gue mengangguk perlahan, merasa mengerti, tapi masih perlu penekanan. Supri melanjutkan, “Dan saat ini, gue lagi jadi ilalang itu. Gue sedang tumbuh sendiri, di sekitar gue nggak ada ilalang lain yang bisa diajak untuk tumbuh bersama. Jadi, buat apa gue maksa untuk berdiri dengan lidi hanya agar terlihat tidak sendiri? Hasilnya tidak akan indah, kan?”

Di titik itu, gue mulai paham apa yang Supri maksud. Dia memilih sendiri karena dia belum bisa menemukan orang yang nyaman di sekitarnya untuk tumbuh bersama. Dia belum menemukan ilalang lain sepertinya.

Oke, di postingan kali ini, gue mau nyoba untuk membahas tentang beberapa alasan orang yang memilih hidup sendiri. Here they are:

Belum ada yang cocok
Banyak orang memakai alasan ini saat memilih untuk sendiri. Memang ini alasan yang masuk akal, karena memaksakan diri untuk menciptakan hubungan dengan orang yang tidak tepat, cuma akan membuang waktu. Ya, kita tahu bahwa hubungan itu akan gagal, tapi tetap dipaksakan untuk berjalan. Akhirnya, seberapa lamapun kita bertahan, endingnya waktunya akan terbuang karena ketemu juga dengan kegagalan.

Namun alasan belum ada yang cocok ini kadang menjebak orang yang memilih untuk sendiri. Karena sudah terlalu lama sendiri, akhirnya dia susah untuk percaya dengan orang lain lagi. Sehingga saat PDKT, tanpa sadar dia tak nyaman untuk membuka hati maupun berbagi isi hati. Akhirnya, gebetan pun bakal mikir dia nggak asik, dia pun nggak bakal mikir gebetannya nggak asik. Gagal deh. Akhirnya dia nggak pernah ketemu dengan orang yang cocok.

Trauma
Pernah ngejalanin hubungan yang sangat menyenangkan dengan seseorang. Hingga dia pun mempercayakan masa depannya kepada orang itu. Di saat dia sayang-sayangnya, ternyata orang yang dia percaya itu pergi gitu aja ninggalin dia. Dia pun kapok untuk percaya dan sayang sama orang lagi, sehingga dia memilih untuk hidup sendiri.

Biasanya sih cewek yang lebih mudah trauma. Soalnya cewek akan malas untuk PeDe lagi sama orang baru, nunjukin hal-hal yang dia sembunyiin kepada orang baru, atau kenalan lagi sama keluarga baru. Siklus itu adalah siklus yang cukup berat buat cewek, soalnya pada dasarnya mereka adalah makhluk yang pemalu, tidak seterbuka cowok. Mereka cuma mau melakukan hal-hal itu kepada orang yang bener-bener mereka percaya. Tapi ya gitu deh.. Membangun kepercayaan itu tak sesusah mempertahankan kepercayaan. Namun yang lebih berat lagi adalah mengembalikan kepercayaan.

Tapi, menurut gue, hidup memang seperti itu. Kita harus tahu rasanya kecewa, agar kita tahu bagaimana cara menjaga saat dipercaya. Kita tidak boleh terjebak dalam trauma. Mungkin ini klise, tapi kalo kita terjebak di masa lalu, bagaimana mungkin siap menerima masa depan yang lebih indah? Kalo kita selalu terduduk jongkok setelah dikecewakan dunia, bagaimana kita bisa mencapai jalan menuju surga?

Terjebak Me-time
Ini alasan yang sebenernya gue banget. Gue adalah tipikal orang yang kadang lebih nyaman di saat sendiri. Gue kadang nggak suka berada di keramaian. Kadang gue menemukan kedamaian dalam sepi. Bahkan, gue bisa merayakan kemerdekaan gue dalam sepi dengan cara pake kolor doang seharian di kamar gue yang gue tutup.

Terlalu lama melakukan rutinitas itu bikin gue males ketemu orang baru, males melakukan hal-hal baru, dan ntah kenapa gue nggak bosen sepanjang weekend diisi dengan estafet nonton film dan nulis postingan baru. Gue takut kalopun ada yang nyoba deket, dengan kebiasaan gue yang macam ini, dia nggak bakal ngerasa nyaman karena mungkin itu adalah kegiatan yang membosankan.

Ntah kenapa, makin tua usia gue, gue ngerasa semakin mengenal dunia dan manusia. Susah mencari orang yang benar-benar bisa dipercaya, susah membedakan orang yang benar-benar peduli, dan susah menemukan orang yang benar-benar tulus. Teman yang dulu akrab banget, dengan alasan finansial, bisa pergi. Teman yang dulu sehati, karena urusan karier bisa mencaci. Teman yang dulu sering tidur bareng, karena urusan asmara bisa tiba-tiba menciptakan prahara. Semua “siklus-penemuan-dan-kehilangan” itu membuat gue semakin ngerasa hambar dalam hubungan.

Ya, gue takut kehilangan lagi. Itulah kenapa, gue malas untuk memiliki.

Mungkin itu terdengar menyedihkan, tapi ntah kenapa, gue nggak ngerasa sedih maupun kesepian. Kesendirian dan kesepian itu berbeda. Kesepian itu tidak selalu terjadi di saat sedang sendiri. Kesepian itu adalah di saat ada banyak orang di sekitar, namun tidak ada yang bisa mengerti. So, I’ve tried to understand myself.

Oke, itu curhatan gue hari ini. Lo yang lagi milih untuk sendiri, alasan lo apa? Dan lo yang udah sukses meninggalkan kesendirian, saran lo apa? Share di comment box ya! Semoga kita bisa saling membantu sesama. Ciao!